Refill Toner HP


Refill Toner HP

jadwal ngedate Gadis Pasrah

Minggu, 08 Agustus 2010

Kyai Haris di komplek pelacuran

SITUBONDO, KOMPAS.com — Suara musik dangdut yang mengentak tiba-tiba mati setelah terdengar lafdun jalalah atau suara azan berkumandang mengiringi tenggelamnya fajar.

Itu pertanda waktunya para santri berkumpul dan belajar mengaji di mushala. Para perempuan berpenampilan menor, yang biasanya duduk santai di depan wisma menunggu pria hidung belang, bergegas menutup pintu dan masuk ke kamarnya masing-masing.

“Mereka semua sangat toleran. Ketika memasuki waktu maghrib, semua penghuni lokalisasi tidak ada yang membunyikan musik sampai waktu isya selesai,” kata Kiai Muhammad Baidawi Haris.

Kiai berusia 52 tahun itu ditemui seusai mengajar para santrinya di lokalisasi Gung Sampan (GS) di Desa Kotakan, Kecamatan/Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Sekitar 17 santri di sana belajar mengaji di Mushala Makrajul Iktidal di tengah kompleks tersebut. Mushala ini diasuh Kiai Haris bersama Siti Zainab, istrinya. Keduanya berasal dari luar kompleks pelacuran itu, kemudian berjihad dengan ikhlas dan tekun untuk mendidik para santri yang umumnya juga anak-anak penghuni kompleks pelacuran itu.

“Saya hanya merasa terpanggil untuk mengajar mengaji di tempat pelacuran ini,” katanya.

Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2004 tentang larangan praktik pelacuran di Situbondo, para ulama berkumpul membahas rintisan keagamaan di kompleks lokalisasi itu.

Ternyata, rintisan para ulama ini mendapat dukungan dari semua penghuni kompleks untuk mendirikan mushala.

“Kegiatan pengajian ini berlangsung tiga tahun, santrinya sudah banyak yang bisa mengaji Al Quran dengan baik,” jelas pengasuh Mushala Makrajul Iktidal yang juga wakil sekretaris Nahdlatul Ulama Situbondo ini.

Para santi ditempatkan di sebuah bekas rumah pelacuran. “Rumah ini sudah dihibahkan untuk dijadikan mushala,” tukasnya.

Selain dijadikan tempat belajar mengaji anak anak kompleks, mushala juga dijadikan tempat kegiatan pengajian rutin malam Jumat yang dikuti seluruh muslimat di kompleks tersebut.

“Khusus untuk malam Jumat biasanya suara musik baru diputar setelah jam 21.00,” jelas Sawar, Ketua RT Desa Kotakan.

Sawar mengaku, meski buta agama dan bergelimang dosa karena menjadi mucikari, tetapi dia tidak ingin anak anaknya akan bernasib sama. “Saya tidak ingin anak-anak mengikuti jejak saya. Makanya, semua saya suruh mengaji agar tahu agama dan dosa,” kata Sawar.

Sejak adanya mushala dan kegiatan keagamaan di kompleks ini, semua warga antusias merawat dan memakmurkan tempat ibadah tersebut. Bahkan, setiap ada kegiatan keagamaan, seluruh warga kompleks tidak pernah absen dan selalu mengadakannya.

“Setiap bulan puasa, semua warga selalu melaksanakan salat tarawih bersama,” ujarnya. Seorang pemilik wisma di lokalisasi itu, Ritnawati (45), mengaku tidak merasa terganggu dengan kegiatan pengajian.

Ia, katanya lagi, justru bersyukur karena dengan adanya bacaan Al Quran dan suara azan dapat menggugah semua warga untuk segera bertaubat.

Dalam kondisi kompleks yang seperti ini, dirinya sering merenung dan berpikir untuk segera insaf dari pekerjaan yang digeluti bersama suaminya itu. “Sekarang ini, saya lebih senang merawat cucu,” kata Ritnawati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

miss you....